Asal Usul dan Nilai Kebudayaan Suku Selayar dari Provinsi Sulawesi Selatan

Faqihah Muharroroh Itsnaini - detikEdu
Kamis, 06 Mei 2021 16:45 WIB
Museum Tanadoang di Kepulauan Selayar
Salah satu koleksi di Museum Tanadoang Selayar (Foto: Esty Rahayu Anggraini)
Jakarta - Jika membicarakan suku yang berasal dari Sulawesi Selatan, hampir semua orang pasti menjawab suku Bugis atau suku Makassar. Namun, ada juga kelompok masyarakat yang disebut sebagai suku Selayar.

Komunitas suku Selayar, sering kali lebih dikenal dengan sub-suku Makassar, atau suku Bugis-Selayar. Namun, beberapa peneliti ada yang menyebut suku ini sebagai suku Bugis-Makassar.

Pasalnya, secara budaya suku Selayar mirip dengan budaya suku Makassar dan suku Bugis. Dilihat dari cara hidup, adat istiadat, adat pernikahan, dan lain-lain.

Namun belakangan ini muncul keinginan masyarakat Selayar untuk lepas dari bayang-bayang suku Bugis dan Makassar.

Meski begitu, dari segi rumpun dan asal usul, kemungkinan besar suku Selayar memiliki sejarah nenek moyang yang sama dengan suku Bugis dan suku Makassar.

Asal Mula Suku Selayar


Selayar sendiri, sebenarnya merupakan nama sebuah pulau. Pulau ini memanjang dari utara ke selatan. Bagian utara berbatasan dengan selat Selayar, sedangkan bagian timur, barat, dan selatannya berbatasan dengan laut Flores.

Konon, penamaan Selayar berasal dari kata "Salah layar", yang diberikan saat Sultan Ternate berlayar dan perahunya terdampar di suatu pulau karang. Ketika terdampar itulah, ia selalu menyebutkan "Salah layar".

Dari penyebutan tadi, pulau ini akhirnya diberi nama "Salah Layar" dan lama-kelamaan penyebutannya menjadi Selayar.

Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa Selayar berasal dari kata "Se" yang artinya sebuah atau satu, dan kata "Layar".

Jadi, versi ini mengatakan bahwa awal mula penamaan Selayar, mungkin berasal dari orang Makassar atau Melayu yang berlayar menggunakan perahu satu layar dan satu tiang pada saat menemukan pulau itu.

Kosa kata ini dikenal juga dalam berbagai bahasa. Misalnya orang Makassar menyebut Silayara, orang Selayar menyebutnya Silajara, sedangkan orang Bugis menyebutnya Silajak.

Selayar merupakan wilayah strategis dalam pelayaran yang mengundang perhatian berbagai kerajaan. Contohnya seperti Kerajaan Majapahit yang memanfaatkan Selayar dalam pelayaran niaga bagian Indonesia Timur demi kepentingan politik nusantara pada zaman Hayam Wuruk di tahun 1350 sampai 1389.

Menurut buku Nusa Selayar: Sejarah & Kebudayaan Masyarakat di Kawasan Timur Nusantara karya Ahmadin, sumber mengenai asal usul masyarakat Selayar masih sangat luas dan variatif.

Berdasarkan catatan sejarah dan temuan arkeologi, diketahui bahwa daratan Sulawesi Selatan masih menyatu dengan Kepulauan Selayar pada zaman es.

Maka, ada kemungkinan manusia purba yang hidup di daratan Sulawesi Selatan pada saat itu pergi menetap ke Selayar.

Jika hal ini benar, maka ada kemungkinan nenek moyang orang Selayar berasal dari manusia purba penghuni Leang Codong di Soppeng, Leang Bola Batu di Bone, Leang Karrasa di Maros, atau Leang Batu Ejaya di Bantaeng.

Asal usul suku Selayar memang belum dapat dipastikan karena banyak suku berbeda yang menetap di pulau Selayar. Seperti orang Melayu, Buton, Bugis, Bajo, dan lain-lain yang menamakan diri mereka sebagai masyarakat Selayar.

Kesimpulannya, orang Selayar merupakan keturunan dari berbagai etnik dan suku bangsa yang berbahasa Selayar (Makassar dialek Konjo). Mereka termasuk orang-orang yang masih menetap maupun yang sudah meninggalkan Pulau Selayar.

Nilai Sosial dan Budaya Masyarakat Suku Selayar

Ada beberapa karakteristik budaya yang dianut oleh masyarakat suku Selayar. Diantaranya yaitu stratifikasi sosial, sistem kekerabatan, alam religi dan mitologi, dan bahasa serta kesenian.

Stratifikasi sosial suku Selayar secara umum, adalah bagian dari sistem pelapisan sosial pada masyarakat Bugis-Makassar. Secara historis, masyarakat Selayar sudah lama mengenal stratifikasi sosial berdasarkan keturunan seperti Opu atau Karaeng (keluarga karaeng), Panrita (cendekiawan tradisional), Ata atau Pasompo-sompo poke (keturunan pengawal opu atau karaeng yang bersenjatakan poke atau tombak).

Selanjutnya, sistem kekerabatan yang berlaku di Selayar adalah sistem bilateral (parental). Oleh karena itu, hubungan kekeluargaan seseorang dapat ditelusuri melalui dua jalur, yakni melalui hubungan dari garis keturunan ayah maupun dari ibu.

Lalu, ada mitologi dan kepercayaan yang dianut masyarakat suku Selayar. Hingga kini, masih banyak yang percaya pada dunia ghaib, roh halus, dan kekuatan sakti lainnya.

Ini menunjukkan bahwa masyarakat suku Selayar bersifat sinkretis, yaitu ajaran Islam bercampur dengan kepercayaan asli.

Contohnya kebiasaan membakar dupa atau kemenyan, menyiapkan sesajen, dan bunga-bunga di pelaksanaan upacara keagamaan tertentu.

Selain kepercayaan ritual tadi, kalangan masyarakat Selayar juga percaya kepada Sareng (kekuatan nasib) yang sangat berpengaruh di kehidupan manusia.

Kemudian, salah satu budaya suku Selayar yang menarik adalah pesan kultural bernama kapalli'. Kapalli' berarti pantang atau larangan, artinya jika dilakukan akan menjadi hal buruk bagi si pelanggar.

Beberapa Kapalli' dalam suku Selayar diantaranya yaitu assalla (menghina orang lain), attolong ri babaang (duduk di depan pintu), muliang sa'ra' allo (pulang saat Magrib), bonting sampu' sikali (menikah dengan sepupu satu kali), ta'mea menteng (kencing berdiri), akkanai (bicara kotor), dan masih banyak lagi.



Dari segi bahasa, suku Selayar memiliki bahasa tersendiri yaitu bahasa Selayar.

Bahasa Selayar berbeda dari Bahasa Makassar dan Bugis. Meskipun beberapa kosa kata dalam bahasa Selayar sama dengan bahasa Makassar dan bahasa Bugis, tetapi pengucapan dan intonasinya sangat berbeda.

Bahasa Selayar diketahui memiliki hubungan dengan bahasa Konjo Pesisir yang dipakai di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Masyarakat suku Selayar juga memiliki sejumlah kesenian khas daerah. Contohnya Batti-batti yang biasa digelar oleh kaum muda-mudi (tak terkecuali kaum tua) dengan cara berpantun dan berbalasan.

Lalu ada Pa'palari atau Abbaiang, jenis permainan rakyat yang dilakukan seorang pria dengan menunggangi kuda dan membonceng seorang gadis.
Ada juga tari Pahruppai, tarian yang dibawakan untuk menyambut dan menghormati tamu-tamu agung yang datang ke daerah Selayar. Tarian yang dimainkan oleh tujuh orang ini melukiskan kerendahan hati dan kesederhanaan masyarakat Selayar.

Lalu, ada Didek yaitu sejenis lagu yang syairnya menyerupai pantun dengan ragam makna yang dimiliki.

Jadi, apakah detikers berminat mengunjungi masyarakat suku Selayar yang berasal dari Sulawesi Selatan?



Simak Video "Bubarkan Tawuran di Makassar, Polisi Lepas Tembakan Peringatan"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia