Upacara Adat Rambu Solo: Makna di Balik Ritual Pemakaman Unik dari Toraja

Faqihah Muharroroh Itsnaini - detikEdu
Rabu, 05 Mei 2021 21:13 WIB
mabadong di rambu solo toraja
Foto: (Muhammad Taufiqqurrahman/detikTravel)
Jakarta - Suku Toraja dikenal memiliki kebudayaan yang sangat beragam dan unik. Salah satunya yaitu upacara adat Rambu Solo atau Aluk Rambu Solo, suatu ritual pemakaman.

Penduduk asli suku Toraja yang tersebar di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki populasi sekitar 1 juta jiwa. Tana Toraja yang eksotis, menjadikan tempat ini sebagai salah satu wisata populer.

Dari berbagai budaya Toraja, upacara adat menjadi suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari suku ini. Hal ini terjadi karena sebagian besar masyarakat Toraja masih menganut tradisi peninggalan leluhur.

Salah satu tradisi yang masih dipegang teguh adalah upacara adat Rambu Solo atau disebut Aluk Rambu Solo. Aluk adalah adat kepercayaan, nilai-nilai adat, aturan, atau ritual tradisional ketat yang sudah ditentukan nenek moyang.

Upacara adat Rambu Solo adalah upacara adat pemakaman sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada seseorang yang sudah meninggal.

Masyarakat Toraja memandang kematian sebagai perpindahan orang dari dunia ke tempat alam roh untuk peristirahatan (Puya).

Maka, untuk mencapai tujuan itu, mayat harus diperlakukan dengan baik oleh keluarga yang ditinggalkan.

Bagi suku Toraja, orang yang sudah meninggal dikatakan telah benar-benar meninggal ketika seluruh kebutuhan prosesi upacara Rambu Solo telah terpenuhi. Jika belum, orang meninggal akan diperlakukan layaknya orang sakit, sehingga masih harus disediakan minuman, makanan, dan dibaringkan di tempat tidur.

Upacara Adat Rambu Solo

Rangkaian upacara adat Rambu Solo merupakan ritual penting yang memakan waktu dan biaya besar. Maka, tak jarang upacara ini dilaksanakan beberapa bulan hingga bertahun-tahun sejak seseorang meninggal.

Biaya upacara adat Rambu Solo yang tinggi disebabkan oleh penyembelihan kerbau, babi, dan lamanya prosesi upacara. Upacara ini memang dibuat meriah, serta ada babi dan kerbau untuk dibagikan ke penduduk sekitar.

Melansir dari laman ITJEN Kemendikbud, Layuk Saroenggalo, salah seorang tokoh masyarakat menjelaskan makna dibaliknya.

"Kenapa semua sisa hasil usaha orang Toraja dilakukan untuk penguburan? Harta harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk sosial, supaya membiasakan anak-anaknya (mendiang) tidak tergantung pada warisan."

Tingkatan Upacara Adat Rambu Solo

Bentuk upacara adat Rambu Solo dilakukan sesuai kedudukan atau strata sosial masyarakatnya. Upacara ini dibagi ke dalam beberapa tingkatan, yang setiap tingkatannya memiliki beberapa bentuk.

Pertama, Upacara Dissili' adalah ritual pemakaman untuk strata paling rendah, atau anak-anak yang belum mempunyai gigi. Upacara tingkat ini dibagi lagi menjadi 4 bentuk.

Kedua, Upacara Dipasangbongi untuk rakyat biasa yang hanya dilakukan dalam satu malam saja. Upacara tingkat ini juga memiliki 4 bentuk, yang masing-masingnya berbeda mulai dari mengorbankan babi 4 ekor, sampai kerbau 2 ekor.

Ketiga, Upacara Dibatang atau Digoya Tedong sebagai upacara untuk kalangan bangsawan menengah. Upacara ini dibagi menjadi 3 jenis, yang masing-masing dilakukan selama 3, 5, dan 7 hari. Jumlah kerbau dan babi yang dikorbankan juga bervariasi mulai dari 3-7 ekor.

Terakhir, Upacara Rapasan yang dikhususkan bagi bangsawan tinggi. Jenis upacara ini dilakukan dua kali dalam rentang waktu setahun. Upacara pertama disebut Aluk Pia, sedangkan upacara kedua disebut Aluk rante. Dibagi menjadi 3 jenis, jumlah babi dan kerbau yang disembelih dalam upacara ini bervariasi mulai dari 9 ekor hingga di atas 100 ekor.

Prosesi Upacara Adat Rambu Solo

Prosesi upacara adar Rambu Solo dibagi menjadi dua garis besar, yaitu prosesi pemakaman atau Rante, yang kedua adalah pertunjukan kesenian.

Kedua prosesi ini tidak dilaksanakan terpisah. Biasanya, kedua kegiatan akan terjadi dalam satu kegiatan upacara pemakaman yang berlangsung sekitar tiga sampai tujuh hari.

Prosesi pemakaman atau Rante terjadi di lapangan di tengah kompleks rumah adat Tongkonan.

Prosesi Rante terdiri dari beberapa bagian. Pertama, Ma'Tudan Mebalun yaitu proses saat jenazah dibungkus menggunakan kain kafan, oleh petugas khusus yang disebut To Mebalun atau To Ma'kayo.

Kedua, Ma'Roto yaitu proses pembubuhan atau menghias peti jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak.

Ketiga, Ma'Popengkalo Alang atau proses penurunan jenazah ke dalam lumbung untuk disemayamkan.

Terakhir, Ma'Palao atau Ma'Pasonglo yaitu proses pengantaran jenazah dari area rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian.

Nilai Sosial dan Budaya dalam Upacara Adat Rambu Solo

Prosesi pertunjukan kesenian tidak hanya untuk memeriahkan upacara, melainkan wujud penghormatan dan doa bagi orang yang meninggal.

Ada beberapa budaya yang dipertontonkan, seperti Ma'pasilaga Tedong yaitu kegiatan adu kerbau, lalu Ma'tinggoro Tedong yaitu penyembelihan kerbau. Jadi, kerbau-kerbau diarak, lalu ditebas dengan sekali ayunan menggunakan parang.

Ada juga berbagai musik daerah dan tarian adat yang ditampilkan dalam upacara Rambu Solo.

Beberapa nilai yang mencerminkan masyarakat Toraja dari upacara ini adalah sikap tolong-menolong, gotong royong, dan kekeluargaan.

Masyarakat Toraja juga meyakini bahwa jika upacara adat Rambu Solo tidak diadakan, akan berdampak pada orang yang ditinggalkan berupa kemalangan.

Oleh sebab itu, upacara ini masih terus dilakukan oleh masyarakat Toraja hingga sekarang.



Simak Video "Rambu Solo, Upacara Pemakaman Suku Toraja"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia