Polemik Kamus Sejarah, Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Buka Suara

Anatasia Anjani - detikEdu
Jumat, 23 Apr 2021 15:36 WIB
Kaca mata kutu buku. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: Dikhy Sasra/Polemik Kamus Sejarah, Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Buka Suara
Jakarta - Kamus Sejarah Indonesia menuai polemik karena dinilaikan melupakan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari dan Gus Dur.

Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Sumardiansyah Perdana Kusuma penyusunan Kamus Sejarah Indonesia Jilid 1-II merupakan hal yang baik sebagai niat untuk memperkaya khazanah sejarah.

Akan tetapi penulisan Kamus Sejarah tetap harus memperhatikan tokoh-tokoh penting yang mengambil tempat dalam perjalanan sejarah bangsa, lokal, maupun nasional.

Karena itu terkait tidak masuknya sejumlah tokoh dalam Kamus Sejarah tersebut, Sumardiansyah berpendapat naskah Kamus Sejarah Indonesia Jilid I-II harus disempurnakan secara objektif dan komprehensif.

"K.H Hasyim Asy'ari bersama para tokoh lain yang mengambil tempat dalam perjalanan sejarah bangsa, lokal maupun nasional, patut untuk diteladani sesuai dengan latar belakang, kapasitas dan lingkup perjuangannya masing-masing," ujar guru sejarah SMAI Al Azhar 1 Jakarta itu dalam keterangan tertulisnya pada wartawan.

Dalam salinan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I yang dipermasalahkan, Direktur Sejarah Kemendikbud kala itu dijabat Triana Wulandari menyampaikan bahwa dasar penyusunan kamus adalah kesulitan yang seringkali ditemukan guru sejarah dalam proses pembelajaran.

Kesulitan tersebut diantaranya munculnya istilah kesejarahan yang sulit dan tidak ditemukan penjelasannya dalam buku teks sejarah. "Karena itu diperlukan kamus yang memuat daftar informasi kesejarahan yang dapat memudahkan guru dan masyarakat luas," seperti yang dikutip detikEdu.

Selain itu, dukungan penyempurnaan Sumardiansyah mengatakan perlu ada pendekatan kebijakan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang berpihak kepada sejarah.

Di antaranya dengan menghidupkan kembali Direktorat Sejarah di bawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud. "Posisi sejarah yang sangat penting dalam pengarusutamaan karakter bangsa dan mencegah amnesia sejarah di tengah arus globalisasi," katanya.

Simak Video "Nama Hasyim Asy'ari Hilang dari Kamus Sejarah, Nadiem Minta Koreksi"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia