BRI Ramadan Update: Kisah Cendekiawan Muslim

Cendekiawan Muslim Al-Farabi, Master Kedua Filsafat yang Piawai Bermusik

Rahma I Harbani - detikEdu
Senin, 19 Apr 2021 03:01 WIB
Al Farabi
Foto: Ilustrasi Fauzan Kamil/Cendekiawan Muslim Al-Farabi, Master Kedua Filsafat yang Piawai Bermusik
Jakarta -

Cendekiawan muslim Al Farabi atau Abu Nashr memiliki nama lengkap Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Al-Uzalagh Al-Farabi. Ia dilahirkan di Wasij, sebuah desa dekat daerah Farab, Kazakhstan tahun 870 M/275 H.

Nama Al-Farabi tersebut diambil dari nama kota kelahirannya tersebut, Kota Farab. Ayahnya adalah seorang opsir keturunan Persia pada Dinasti Samaniyyah yang menguasai wilayah Transoxiana, wilayah otonom Bani Abbasyyah.

Semasa kecil, Al-Farabi dikenal sebagai anak yang rajin dan tekun belajar. Dalam aspek kebahasaan ia memiliki tutur bahasa yang baik.

Mengutip dari buku Tokoh Filsafat Dunia, Al-Farabi mulai mendalami ilmu pengetahuan seperti ilmu kebahasaan, filsafat, hingga logika saat ia melakukan perjalanan ke Kota Baghdad tahun 922 M.

Kota itu memang dikenal sebagai kota ilmu pengetahuan pada masanya. Ia pun belajar di kota tersebut selama 10 tahun lamanya.

Bersama Ibnu Suraj, ia mempelajari tata bahasa Arab. Sementara untuk filsafat dan logika, Al-Farabi belajar di bawah bimbingan Abu Bisyr Mattius Ibn Yunus.

Ia juga pernah belajar dengan tokoh filsuf aliran Alexandria, Yuhana Ibn Hailan, yang mengajaknya pergi ke Konstantinopel dan menetap di sana selama 8 tahun untuk mendalami filsafat.

Saat dewasa, Al-Farabi pindah ke Damaskus dan bertemu dengan seorang bangsawan Damaskus, Saif Al-Daulah Hamdani. Ia pun diberi kepercayaan sebagai ulama dan ilmuwan di istana. Siang harinya ia bekerja sebagai tukang kebun dan belajar teks-teks filsafat pada malam harinya.

Meskipun sepanjang hidupnya akrab dengan kehidupan istana bahkan diberikan imbalan yang besar oleh sang sultan, namun Al-Farabi tetap konsisten menjalani hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan.

Al-Farabi dikenal sebagai cendekiawan muslim yang ahli di bidang filsafat. Selain filsafat, ternyata ia juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan lainnya seperti, logika, fisika, ilmu alam, kedokteran, kimia, ilmu perkotaan, ilmu lingkungan, fiqih, ilmu militer, hingga musik.

Berkat ketertarikan dan kecerdasannya dalam memahami pemikiran filsafat Aristoteles, ia mendapat julukan "Guru atau Master Kedua (al-mu'allim at thani)" setelah Aristoteles, seperti yang dinukil dari tulisan Siti Nutlaela dalam bukunya Mulut yang Terkunci: 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi.

Klik halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Bupati Purwakarta Wajibkan ASN Tadarus Al-Qur'an Sebelum Kerja"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia