Anak LPDP Diberi Ekspektasi Lebih, Dosen ITB Imam Santoso: Namanya Juga Uang Rakyat

ADVERTISEMENT

Anak LPDP Diberi Ekspektasi Lebih, Dosen ITB Imam Santoso: Namanya Juga Uang Rakyat

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 25 Feb 2026 20:00 WIB
Sosok Imam Santoso
Dosen ITB Imam Santoso. Foto: LPDP
Jakarta -

Viralnya DS, awardee LPDP yang memamerkan anaknya berpaspor Inggris menuai kritik dari berbagai kalangan di masyarakat, termasuk pesohor. Tak sedikit warganet yang menyinggung uang rakyat untuk membiayai awardee LPDP dan mengungkit penerima beasiswa dari kalangan mampu.

Dosen ITB yang juga dikenal sebagai kreator di bidang pendidikan, Dr Imam Santoso, mengamini perihal adanya tuntutan bagi awardee LPDP agar bisa segera memberi dampak.

"Karena namanya juga uang rakyat ya," kata lulusan LPDP PK-20 itu dalam Career Monitoring Alumni LPDP Program Beasiswa Prasejahtera yang digelar daring melalui YouTube LPDP RI pada Rabu (25/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tantangan Awardee LPDP: Ekosistem

Di sisi lain Imam menyadari, ada beberapa hal yang menjadi tantangan lulusan LPDP. Terlebih, awardee diberi ekspektasi lebih oleh masyarakat.

ADVERTISEMENT

"Masyarakat itu pengin kita menunjukkan mana sih dampak yang sudah kalian buat," ucapnya.

"Kita di-expect lebih, anak LPDP itu," katanya lagi.

Lulusan Aalto University ini mengatakan, karena adanya tuntutan untuk berkontribusi lebih, maka kalau bisa, ilmu dan tesis awardee LPDP didampakkan.

"Kalau saya teman-teman, ilmu saya ketika kuliah di Aalto University, itu masih bisa di-download tesisnya, saya belajar tentang ngolah tembaga. Dan Alhamdulillah ketika pulang dari sana, saya mengajar tentang tembaga di Indonesia, kemudian ikut memberikan training juga ke perusahaan-perusahaan tembaga di Indonesia," bebernya.

Meski begitu, Imam juga mengamini ada tantangan dari segi ekosistem bagi awardee yang kembali ke Indonesia. Oleh sebab itu, kata Imam, awardee LPDP tidak boleh single fighter. Lulusan LPDP perlu berjejaring multidisiplin, ia mencontohkan bagaimana dirinya dahulu.

Sepulang dari Aalto University untuk menamstkan PhD, ia berjejaring dengan kawannya yang dahulu berada di Australia, agar bisa memanfaatkan alat yang ada di sana dan membuat penelitian bersama.

"Ini sudah pasti ini, (tantangan) anggaran dan sebagainya," ujarnya.

"Tapi apa yang saya lakukan? Saya mencoba membangun networking, jejaring teman-teman saya yang dulu kuliah di luar negeri," ungkap Imam.

Dalam kesempatan ini, penerima beasiswa Australia Awards itu juga menggarisbawahi terkait relevansi keilmuan dengan kontribusi. Menurutnya, pada akhirnya relevansi itu bukan tentang apa yang bisa dilakukan atau apa yang diketahui, tetapi apakah ilmu yang dimiliki bisa menyelesaikan masalah atau tidak.



(nah/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads