Liburan semester yang seharusnya menjadi momen menyenangkan justru berubah menjadi pengalaman traumatis bagi Haula Dwi Juliyatri Hasibuan. Ia merupakan salah satu korban selamat KMP Putri Yasmin yang terbakar di perairan Pantai Sekotong, Lombok Barat, Rabu (12/8/2026).
Mahasiswi Universitas Mataram (Unram) itu bukan hanya harus berjuang menyelamatkan diri di tengah kepanikan penumpang, tetapi juga kehilangan sahabatnya, Indah Dwi Septiani alias IDS, saat mereka terombang-ambing di tengah laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haula bercerita, detik-detik mencekam malam itu bermula saat kepulan asap mulai memenuhi bagian dalam kapal.
"Chaos banget waktu itu, asap sudah mengepul, kami sudah sesak napas," kata Haula saat diwawancarai di rumah duka Indah, Kamis (13/8/2026) siang.
Haula bersama dua sahabatnya, Rahdatul Aisy Putri dan almarhumah Indah baru saja menyelesaikan liburan semesternya di Pulau Bali.
"(Kami bertiga) pulang liburan dari Bali," ungkapnya.
Sempat Minta Maaf ke Ibu
Yang ada dipikiran Haula kala itu peluang untuk selamat sangatlah kecil. Sebab, kobaran api semakin besar, dan para penumpang mulai berteriak untuk segera melompat ke arah lautan yang terlihat gelap gulita.
Dalam situasi darurat tersebut, Haula memutuskan menelepon sang ibu tercinta. Tepat pukul 03.20 Wita, ia menyampaikan pesan-pesan terakhir, yakni permohonan maaf, dan mengabarkan situasi kapal yang terbakar hebat.
"Jam 03.20 dini hari saya telepon ibu saya. Di situ saya bilang, kapalnya kebakaran. Saya minta maaf dan segala macam," tutur Haula dengan suara paraunya.
Pesan menyentuh dan permintaan maaf yang dikirimkan Haula kepada sang ibu menjadi saksi bisu betapa tipisnya batas antara hidup dan mati dalam insiden naas KMP Putri Yasmin kala itu.
"Jujur, nggak ada firasat soal kejadian ini. Tapi kalau dari orang tua ada, tapi mungkin nggak kepikiran kalau (kejadian itu terjadi) ke kita," ungkapnya.
Detik-detik Mencekam
Ia berujar kebingungan melanda para penumpang di tengah situasi yang gelap gulita. Instruksi sempat simpang siur, antara arahan awak kapal dan teriakan sesama penumpang agar segera melompat ke laut.
"Yang saya ingat, semuanya sudah pakai pelampung. Kami bertiga lompat. Kami bertiga juga pakai pelampung. Indah yang duluan lompat, setelah itu saya dan selanjutnya teman saya. Kami cuma bisa bergenggaman tangan saja. Saya sempat berkomunikasi dengan Indah, untuk memastikan kalau dia aman," ungkapnya.
Namun, kondisi laut dan arus yang kuat akhirnya memisahkan mereka. Genggaman tangan Haula dengan Indah terlepas.
"Kurang lebih 30 menit saya masih berkomunikasi sama Indah. Kami masih ngomong untuk saling menguatkan. Dia sempat memanggil nama saya juga, Ula, Ula, katanya. Tapi (setelah itu) kami terpisah karena lawan arus," ujarnya.
Diselamatkan Warga Asing
Haula kemudian terombang-ambing di laut selama sekitar empat jam. Energinya semakin terkuras, sementara sejumlah penumpang lain juga masih berjuang bertahan di tengah laut.
"Banyak penumpang yang terombang-ambing di laut sama kami. Sekitar pukul 08.00 pagi kami diselamatkan bule, kami diangkat ke kapal speedboat," katanya.
Ketika diselamatkan warga asing tersebut, Haula dan salah satu sahabatnya dibuat terkejut karena Indah dalam kondisi tak bernyawa. Indah mengapung dalam kondisi terlentang, tidak jauh dari lokasinya. Indah mengalami sejumlah luka di terlihat di badan, salah satunya bagian kepala.
"Sudah tidak ada (meninggal), tangannya sudah biru, kakinya nggak gerak, napasnya juga sudah nggak ada," tuturnya dengan suara parau.
Hingga hari kedua pasca terbakarnya KMP Putri Yasmin, Haula mengaku tak bisa tidur nyenyak. Pengalamannya terombang-ambing di tengah laut bersama dua sahabatnya, indah dan Rahdatul yang harusnya menjadi kenangan indah, tapi berubah menjadi trauma besar.
Diberitakan sebelumnya, KMP Putri Yasmin mengalami kebakaran saat melintas di perairan Pantai Sekotong, Lombok Barat, Rabu (12/8/2026) dini hari. Insiden tersebut diterima Kantor SAR Mataram dari Nakhoda Rescue Boat (RB) 220 Mataram, Nurdin, pukul 04.39 Wita.
Video berdurasi 50 detik yang diterima detikBali memperlihatkan asap sempat membuat penumpang kapal panik. Seluruh penumpang terlihat telah menggunakan pelampung.
Humas Kantor SAR Mataram, I Gusti Lanang Wiswananda, mengatakan peristiwa kebakaran kapal, berdasarkan laporan awal, diperkirakan terjadi pukul 04.15 Wita. Lokasi kejadian berada pada koordinat 8°43'12.37"S-115°47'35.93"E di perairan Pantai Sekotong dengan jarak lurus sekitar 16,84 Nautical Miles (Nm) dan heading 272,37 dari posisi RB 220 Mataram.
Tim Rescue langsung bergerak menuju lokasi kejadian untuk melakukan upaya pertolongan dan evakuasi. "Tim berangkat pada pukul 04.45 Wita dan diperkirakan tiba di lokasi kejadian pada pukul 05.10 Wita," terang Lanang.
(nor/nor)