detikBali

Pemkab Lombok Tengah Mulai Salurkan Ayam Petelur untuk Tangani Stunting

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pemkab Lombok Tengah Mulai Salurkan Ayam Petelur untuk Tangani Stunting


Sui Suadnyana, Edi Suryansyah - detikBali

Wabup Lombok Tengah, Muhammad Nursiah (kiri), menyerahkan bibit ayam petelur di Praya, Senin (19/1/2026) petang. (Edi Suryansyah/detikBali)
Foto: Wabup Lombok Tengah, Muhammad Nursiah (kiri), menyerahkan bibit ayam petelur di Praya, Senin (19/1/2026) petang. (Edi Suryansyah/detikBali)
Lombok Tengah -

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai menyalurkan ayam petelur kepada para warga miskin yang memiliki anggota keluarga stunting. Mereka akan menerima ayam mulai dari 20 hingga 50 ekor setiap kartu keluarga (KK).

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah, Pajarudin, mengatakan program ini merupakan salah satu terobosan untuk menangani stunting. Program ini dinamakan Lempot Stunting.

"Jadi ini dihadirkan bagaimana masyarakat itu bisa mandiri untuk kebutuhan protein hewani melalui usaha budi daya ayam tersebut," kata Pajar seusai menyerahkan bantuan bibit ayam petelur di Praya, Senin (19/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahap percobaan tahun ini akan disalurkan ayam petelur kepada 100 orang. Penerima bersumber pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan bekerja sama dengan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) setempat. "Masing-masing penerima akan diberikan sebanyak 20 ekora sampai 50 ekor ayam petelur," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Pajar, strategi pemenuhan gizi masyarakat miskin yang memiliki anggota keluarga stunting melalui pemberian ayam petelur karena pembudidayaannya relatif mudah.

"Budidayanya cukup simpel dan sederhana dengan membuat tempat kandang yang didesain khusus dengan kapasitas bisa menampung bisa 12 sampai 16 dalam satu set, tetapi tergantung dari kapasitas lokasinya," imbuhnya.

Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Satuan Tugas (Satgas) Pengentasan Stunting di Lombok Tengah, jelas Pajar, budi daya ayam petelur ini akan mempermudah pencegahan stunting. Di sisi lain, pembudidayaan ini juga akan mampu meningkatkan perekonomian karena telur itu juga bisa dijual.

"Artinya bahwa di samping mereka budi daya, juga bisa memanfaatkan hasilnya untuk kebutuhan dapur, terutama keluarga yang memiliki bayi atau balita yang masih berstatus stunting untuk kebutuhan telur tiap hari bisa dipenuhi oleh produksi yang dihasilkan oleh peternak," beber Pajar.

Wakil Bupati (Wabup) Lombok Tengah, Muhammad Nursiah, menjelaskan balita penderita stunting di Gumi Tatas Tuhu Trasna masih sekitar 9,8%. Angka ini menurun cukup signifikan jika dibandingkan pada 2023 mencapai 17%, lalu naik menjadi 36% pada 2024, dan turun ke 24,9% pada 2025. Angka stunting di Lombok Tengah per November 2025 tercapai mencapai 9,28%.

"Dengan penurunan ini, itu menjadi acuan. Jangan kita puas dengan angka itu. Tetapi, kami harus tetap meningkatkan kinerja dan makin termotivasi," ujar Nursiah.

Melalui program Lempot Stunting ini, Pemkab Lombok Tengah bukan hanya menyiapkan bibit ayam dan kandang, tetapi juga memberikan pakan serta pengawasan dari dinas terkait.

"Ada tim pendampingnya. Dan insyaallah program ini akan menjadi terobosan nantinya," jelas Nursiah.




(hsa/hsa)










Hide Ads