detikBali

Tumpek Landep di Era AI: Jangan Hanya Menajamkan Benda, Asah Juga Pikiran!

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tumpek Landep di Era AI: Jangan Hanya Menajamkan Benda, Asah Juga Pikiran!


Sui Suadnyana, Wibhi Leksono - detikBali

Ilustrasi otak atau pikiran manusia
Foto: Ilustrasi otak atau pikiran manusia. (Pixabay/Loaivat)
Denpasar -

Tumpek Landep selama ini identik dengan penyucian keris, senjata hingga kendaraan. Namun, di tengah derasnya arus teknologi dan akal imitasi atau artificial intelligence (AI), yang perlu diasah atau dipertajam justru pikiran manusia.

Pada konteks kekinian, 'ketajaman' hadir dalam bentuk baru, yaitu kata-kata, informasi, dan algoritma. AI mampu menulis, menganalisis, bahkan membentuk opini dalam hitungan detik. Masalahnya, ketajaman itu tidak selalu diiringi kebijaksanaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti Center for Dharmic Studies (CDS) sekaligus akademisi Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Gede Endy Kumara Gupta, menilai pemaknaan Tumpek Landep perlu ditarik lebih dalam, tidak berhenti pada benda.

"Selama ini kita fokus pada benda tajam, seperti keris atau bahkan kendaraan. Tetapi sekarang, kita mulai melihatnya sebagai hari untuk menajamkan pikiran," ujar Endy, Sabtu (18/4/2026).

ADVERTISEMENT
Gede Endy Kumara Gupta, Peneliti Center for Dharmic Studies (CDS) sekaligus akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. (Istimewa)Foto: Gede Endy Kumara Gupta, Peneliti Center for Dharmic Studies (CDS) sekaligus akademisi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. (Istimewa)

Endy menjelaskan, dalam tradisi Hindu, pikiran memiliki empat dimensi: manas, ahamkara, buddhi, dan chitta. Namun, dalam konteks saat ini, dua hal menjadi kunci, yakni buddhi (intelektualitas) dan ahamkara (identitas diri).

"Buddhi itu seperti pisau yang harus diasah untuk memilah benar dan salah. Sementara ahamkara adalah tangan yang menggunakannya," ucap Endy.

Persoalan di era digital, terang Endy, muncul ketika buddhi dan ahamkara tidak seimbang. Arus informasi yang berlebihan membuat orang sulit memilah, sementara identitas diri yang lemah membuat arah penggunaan pengetahuan menjadi keliru.

"Memilah informasi itu kemampuan buddhi, tetapi buddhi bekerja sesuai ahamkara untuk kebaikan atau keburukan," tegas Endy.

Teknologi AI dalam situasi ini hanya memperbesar dampak. AI mempercepat produksi informasi, tetapi tidak menentukan nilai di dalamnya. Tanpa kendali manusia yang sadar dan bijak, ketajaman justru berubah menjadi sumber masalah. Tumpek Landep menjadi relevan sebagai pengingat sederhana: teknologi boleh makin canggih, tetapi kendali tetap ada pada manusia.

Merayakan Tumpek Landep di era AI seharusnya tidak berhenti pada ritual simbolik. Peryaaan ini juga perlu diterjemahkan dalam sikap kehati-hatian dalam menyerap informasi, ketegasan dalam memilah kebenaran, serta kesadaran akan identitas diri di tengah arus yang terus bergerak.

"Yang perlu diasah hari ini bukan lagi sekadar alat, melainkan cara berpikir dan kesadaran dalam menggunakannya," tegas Endy.




(hsa/hsa)










Hide Ads
LIVE