detikBali
Nasional

Luhut: Prabowo Setuju Bangun Family Office bagi Investor Asing di Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026
Nasional

Luhut: Prabowo Setuju Bangun Family Office bagi Investor Asing di Bali


Ignacio Geordi Oswaldo - detikBali

Prabowo dan Luhut bertemu 4 mata di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Foto: Prabowo dan Luhut bertemu 4 mata di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/4/2026). (IG Sekretariat Kabinet)
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto disebut-sebut sudah menyetujui pembentukan family office di sekitar Pusat Keuangan Internasional (International Financial Center/IFC) di Bali. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.

Dilansir dari detikFinance, Luhut mengatakan aturan pembentukan family office tengah disusun oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan ditargetkan rampung pada 4 Juni 2026.

"Presiden juga setuju untuk mendirikan pusat keuangan internasional, family office, dan pada tanggal 4, saya rasa undang-undang tentang ini akan disahkan di parlemen," ujar Luhut dalam acara ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Luhut mengatakan operasional family office akan dibantu oleh tokoh senior dari Inggris berdasarkan rekomendasi Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Agata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani.

ADVERTISEMENT

"Kami berdiskusi dengan Rosan tadi malam, dia mengatakan kepada saya, dia sudah setuju dan telah menunjuk seorang tokoh senior dari Inggris untuk menjadi penasihat atau teman kami di family office," ungkap Luhut.

Menurut Luhut, saat ini merupakan waktu yang paling tepat bagi Indonesia untuk membangun family office maupun kawasan ekonomi khusus (KEK) finansial. Sebab, di tengah ketidakpastian ekonomi akibat perang di Timur Tengah, banyak investor global sedang mencari tempat baru untuk menjaga aset hingga triliunan dolar mereka tetap aman.

"Satu triliun dolar, katanya, ada di Timur Tengah saat ini, mereka mencari tempat yang tepat untuk berinvestasi dan mereka ingin tetap aman. Jadi kita tidak mengharapkan untuk mendapatkan US$ 100-200 miliar dalam semalam. Tetapi jika mereka ingin berinvestasi, mereka juga membawa kredibilitas dan kepercayaan, yang kita butuhkan saat ini untuk membawa Indonesia ke situasi yang lebih baik," tutur Luhut.

Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini!



(hsa/hsa)










Hide Ads