Misteri hilangnya seorang nenek bernama I Nyoman Selir (79) di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, akhirnya terkuak. Korban yang dilaporkan hilang sejak akhir Agustus 2026 itu ditemukan sudah menjadi kerangka manusia di area perbukitan.
Kasi Humas Polres Klungkung I Dewa Nyoman Alit Purnawibawa membenarkan ditemukannya I Nyoman Selir dalam kondisi sudah menjadi tengkorak dan tulang belulang manusia. Tengkorak itu ditemukan pada Jumat (2/10/2026) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tengkorak dan tulang belulang ditemukan warga setempat yang tengah mencari kayu bakar. Di area yang sama, ditemukan juga kain (kamben), pakaian, dan ember yang sudah dikonfirmasi oleh keluarga korban," kata Alit saat dikonfirmasi, Sabtu (3/10/2026).
"Korban diperkirakan berjalan kaki dari Banjar Semaya menuju arah selatan melewati perbukitan hingga tersesat," imbuhnya.
Sebelumnya, Nenek Nyoman Selir diketahui meninggalkan rumahnya di Banjar Semaya, Desa Suana, pada Senin (24/8/2026) sekitar pukul 08.00 Wita dengan tujuan ke pemandian umum. Namun, perempuan paruh baya dengan ciri-ciri fisik berambut panjang putih beruban dan tinggi sekitar 154 cm itu tak kunjung pulang.
Upaya pencarian intensif yang dilakukan Tim SAR gabungan bersama warga saat itu belum membuahkan hasil. Hingga pada Jumat sekitar pukul 14.00 Wita, dua orang warga, I Wayan Tarka dan Ni Wayan Murniati, yang sedang mencari kayu bakar di lahan milik warga di Bukit Rempaan, Dusun Ampel, Desa Pejukutan, dikejutkan dengan penemuan kain (kamben), pakaian, dan ember.
Tak jauh dari barang-barang tersebut, mereka mendapati tengkorak kepala manusia.
"Saksi kemudian bergegas melaporkan temuan itu kepada Bendesa Adat Semaya, yang diteruskan ke Polsek Nusa Penida," terang Alit.
"Pihak keluarga korban yang tiba di tempat kejadian perkara (TKP) langsung mengenali barang-barang yang berserakan sebagai milik korban," sambung Alit.
Selanjutnya pihak keluarga bersama warga dan aparat gabungan melakukan evakuasi. Mengingat kondisi jenazah yang sudah berupa tulang belulang akibat faktor cuaca dan pembusukan alami di alam terbuka.
"Keluarga sempat menggelar upacara adat pembersihan tulang (maeteh) di TKP sebelum dibawa ke Setra Desa Adat Semaya untuk dimakamkan," pungkasnya.