Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 6 ribu bayi di Indonesia meninggal setiap tahun karena tidak mendapatkan kesempatan operasi penanganan penyakit jantung bawaan.
Budi menjelaskan Indonesia mencatat sekitar 4,8 juta kelahiran setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 dari setiap 1.000 bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan, atau sekitar 48 ribu kasus setiap tahunnya.
"Indonesia memiliki 4,8 juta bayi setiap tahun. Secara umum, 8-9 dari setiap 1.000 bayi memiliki kematian kardiovaskala," ujarnya dalam acara 67th Annual World Congress International College of Angiology (ICA) 2026 yang dipadukan dengan pertemuan tahunan IndoVasc di The Westin Resort Nusa Dua, Kuta Selatan, Badung, pada Jumat (31/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, sekitar 25 persen atau 12 ribu bayi dengan kelainan jantung bawaan memerlukan tindakan operasi. Namun, kapasitas layanan operasi jantung anak di Indonesia saat ini baru mampu menangani sekitar 6 ribu kasus setiap tahun.
"Kapasitas kita hanya 6 ribu. Jadi, 6 ribu bayi setiap tahun meninggal karena penyakit jantung bawaan. Dan kita selalu terlambat mengidentifikasi mereka dalam prosesnya," jelasnya.
Untuk menekan angka kematian akibat penyakit jantung bawaan, Kementerian Kesehatan mulai mendistribusikan alat skrining awal atau pulse oximeter ke 10 ribu puskesmas di Indonesia di 7 ribu pulau berpenghuni untuk memeriksa 4,8 juta bayi setiap tahunnya.
"Kemudian kami menemukan bahwa 5% dari 150 ribu, kami baru memeriksa 150 ribu sejak awal program ini, 5% di antaranya memiliki penyakit jantung bawaan," ungkapnya.
Budi menambahkan skrining kesehatan juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas deteksi dini penyakit pada seluruh masyarakat. Tahun lalu, program skrining telah menjangkau sekitar 70 juta orang.
"Tahun lalu kami hanya mencapai 70 juta. Tahun ini target kami adalah 136 juta, dan mudah-mudahan pada tahun 2029, sebanyak 280 juta rakyat Indonesia setiap tahunnya akan diskrining data klinisnya," ucapnya.