Warga terdampak abrasi di Pantai Monggalan, Klungkung, Bali, sampai saat ini masih menunggu pemerintah merealisasikan bantuan berupa relokasi dan bedah rumah. Dalam perencanaannya, Pemkab Klungkung telah menganggarkan Rp 97 juta per Kepala Keluarga (KK) terdampak.
"Realisasinya tahun ini. Pemkab Klungkung menyediakan masing-masing Rp 97 juta per KK," kata Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra pada awak media, Selasa (21/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penanggulangan korban bencana abrasi di Pantai Monggalan, Surya menerangkan telah membangun koordinasi dengan instansi terkait, yakni BPBD, Dinas Sosial, dan Dinas PUPRPKP Klungkung.
Rencana awal relokasi akan diarahkan ke salah satu lahan milik provinsi. Namun dalam prosesnya ternyata lahan yang telah dipilih sebagai lokasi relokasi tersebut bukan milik pemerintah provinsi.
"Sehingga kami arahkan ke rumah deret yang ada di Desa Sulang," terangnya.
Berdasarkan data terbaru yang disampaikan Perbekel Kusamba, ada 10 KK yang terdampak. Dari 10 KK, 2 KK menyatakan kesiapannya untuk direlokasi ke rumah deret, 6 KK telah menyiapkan lahan sendiri untuk dibangunkan rumah.
Sementara 2 KK lainnya belum menyatakan keinginan untuk mendapat bantuan dari dua opsi tersebut.
"Untuk 6 KK yang sudah memiliki lahan pengganti akan dibantu dengan skema bedah rumah," jelasnya.
Surya memperjelas, relokasi ke rumah deret di Desa Sulang bukan berarti akan menempati yang sudah ada. Melainkan Pemkab akan membangun rumah untuknya di lokasi tersebut.
"Untuk leading sektornya nanti di Dinas Sosial," pungkasnya.
Sebelumnya, abrasi di pesisir Pantai Monggalan semakin parah. Sejumlah warga yang bertahan di kawasan pesisir itu diselimuti rasa cemas sembari berharap pemerintah segera turun tangan membuatkan tanggul.
"Saya di sini terpaksa karena jualan. Kalau malam tidak berani tidur di sini. Saya mengungsi di rumah orang tua," kata warga di Pantai Monggalan, I Dewa Raka (68), saat ditemui detikBali, Minggu (19/4/2026).
Menurut Raka, luas pesisir yang tergerus abrasi terus bertambah, terutama saat air pasang. Ia pun menunjukkan lahan dan rumahnya yang sudah tenggelam.
"Dulu rumah saya di pelampung itu. Dalam dua setengah tahun, sudah banyak yang habis. Kalau tidak dibuat tanggul, ini bisa habis semua," imbuh Raka sembari menunjuk deretan rumah di bibir pantai yang belum terdampak abrasi.
(nor/nor)










































