Momentum Hari Kartini menjadi refleksi bagi perempuan untuk terus menebar manfaat. Di Jembrana, Bali, sosok Ni Kadek Astini (39) membuktikan bahwa dedikasi terhadap budaya bisa menjadi jembatan kesetaraan bagi anak-anak disabilitas melalui seni tari.
Kadek Astini merupakan pemilik Sanggar Tari Pradnya Swari. Berbeda dengan sanggar pada umumnya, Astini memberikan ruang spesial bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk ikut melenturkan jemari dan raga dalam balutan gerak tari Bali secara gratis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan Astini dimulai sejak tahun 2010. Kala itu, perempuan asal Gianyar ini baru saja menikah dan pindah ke Jembrana. Melihat minimnya penari saat odalan di banjar, hatinya tergerak untuk mengajar anak-anak di lingkungan sekitarnya agar bisa ngayah (berbakti tulus ikhlas) menari di pura.
"Awalnya gratis tahun 2012, muridnya cuma 4 sampai 10 orang di Dauhwaru, Kecamatan Jembrana. Tahun 2013 baru mulai bayar per datang itu Rp 2.000 per orang," kenang ibu tiga anak ini saat ditemui detikBali, Selasa (21/4/2026).
Seiring waktu, sanggarnya berkembang pesat. Dari ujian pertama di Wantilan Pura Jagatnatha Jembrana yang hanya diikuti 40 siswa, kini Sanggar Pradnya Swari memiliki lebih dari 420 siswa yang tersebar dari Kecamatan Pekutatan hingga Melaya.
Rangkul Anak-anak Disabilitas
Ni Kadek Astini (39), Selasa (21/4/2026). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali). |
Titik balik perjuangan Astini terjadi pada tahun 2020. Dirinya melihat seorang anak tuna daksa yang merupakan saudara dari anggota sanggarnya tampak canggung melihat teman-temannya menari. Astini lantas mengajaknya bergabung.
Tak sekadar mengajak, Astini bahkan mendatangi rumah anak-anak disabilitas untuk meyakinkan mereka. Dirinya memberikan fasilitas latihan, snack, hingga minuman secara cuma-cuma bagi mereka yang ingin belajar.
"Awalnya saya tidak bisa bahasa isyarat untuk tuna rungu, jadi kami pakai bahasa tubuh. Kami sepakati instruksi, kalau tangan saya ke kanan itu agem kanan. Ternyata mereka sangat cepat mengerti," ungkapnya.
Perjuangan ini membuahkan hasil manis. Pada 2022, sembilan penari disabilitas binaannya diboyong Kementerian Sosial untuk tampil di Jakarta. Mereka juga sempat tampil di Makassar hingga berbagai kabupaten di Bali.
Salah satu momen paling berkesan adalah saat salah satu murid disabilitasnya, I Gusti Ayu Resya Iswara, viral di media sosial karena keinginannya bertemu Megawati Soekarnoputri.
Video tersebut menarik perhatian ajudan Presiden ke-5 RI tersebut. Hingga akhirnya, pada 2024, keinginan sang penari disabilitas terwujud dengan bertemu langsung Megawati di Batubulan, Gianyar.
Meski telah sukses, Astini tak lepas dari isu miring. Ada yang menudingnya mengambil keuntungan atau bantuan atas nama anak disabilitas. Namun, dirinya menepis hal tersebut dengan tegas.
"Kami hanya memfasilitasi tempat dan menjembatani. Tidak ada pemotongan, bahkan kami ikut ngayah," tegasnya.
Gratiskan SPP Menari untuk Anak Kurang Mampu
Ni Kadek Astini (39) saat mengajarkan anak-anak didiknya menari Bali di Sanggar Tari Pradnya Swari di Lingkungan Menega, Kelurahan Dauh Waru, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Selasa (21/4/2026). (I Putu Adi Budiastrawan/detikBali). |
Saat ini, sanggar mematok biaya SPP Rp 60.000 per bulan untuk 12 kali pertemuan. Namun, Astini tetap menggratiskan biaya bagi mereka yang tidak mampu.
"Ada sekitar 30 orang yang kami gratiskan dalam setahun dengan bukti dari kepala lingkungan. Hasil SPP kami gunakan untuk pelatih dan kebutuhan sanggar. Tujuan kami hanya agar generasi muda bisa menari, agar gampang mencari talenta untuk ajang seperti PKB," tutupnya.
Kini, nama Sanggar Pradnya Swari tidak hanya dikenal di Bali. Astini bahkan mengajar secara daring untuk murid di Jakarta hingga WNI di Australia dan Jerman. Meski sempat batal mengirim penari ke Jerman karena kendala anggaran KBRI, semangat 'Kartini' asal Jembrana ini tidak pernah luntur untuk melestarikan budaya tanpa memandang keterbatasan fisik.
(nor/nor)












































